Photo berikut adalah peralatan linting dan vape yang akhirnya saya buang di hari Minggu 10 Mei 2026. Saat saya putuskan benar-benar selamat tinggal pada dunia ahli-hisap. Keputusan yang sudah bulat, tanpa ragu-ragu bahkan dengan penuh rasa syukur dan semangat.
Saya sudah berhenti merokok sejak Oktober 2025 yang berarti sekitar 6 bulan sampai dengan saat ini. Saya katakan jujur, berhenti merokok itu sulit, sangat sulit tapi bisa. Nah salah satu motivasinya saya tertantang untuk membuktikan bahwa saya bisa berhenti merokok.
Bosan Dengan Rasa Ketergantungan
Akhir-akhir ini saya merasa seperti mesin tua yang kalau mau dipaksa bekerja maka konsumsi bahan bakarnya semakin boros dan pembakarannya semakin menjadi-jadi, sedangkan performanya bukan semakin baik namun semakin menurun.
Singkatnya, saya ingin hidup utuh dan mampu memberi potensi maksimal dari diri saya sendiri tanpa bergantung pada apapun.
Satu Dua Bulan Awal yang Berat
Sekitar bulan Juli 2025 saya sudah sempat memulai berhenti merokok, tapi hanya bertahan sekitar 1 bulanan lebih dan kemudian gagal. Bermula dari satu batang, di hari-hari yang berat kita merasa "ah gapapa cuma satu batang ini".
Ternyata kesalahannya adalah disitu. Kegagalan dimulai dari 1 batang yang dimaafkan. So pelajarannya: no excuse. Lawan candu sebenarnya memang di hari-hari yang sulit, maka harus dilawan dan dimenangkan. Hari berikutnya akan lebih gampang.
Sulit Untuk Berhenti Lagi
Tantangan berikutnya adalah sulit untuk berhenti lagi. Satu hari, gagal, hari berikutnya gagal, coba minggu depan, gagal. Begitu terus sampai berminggu. Akhirnya, ada 1 hari dimana saya puaskan ngisap dan ngopi, load di depan laptop juga saya tambah.
Besok paginya, saya stop total. Hal ini lebih mudah karena dada berasa lebih panas, lebih lelah, tenggorokan juga engga enak, maka hasrat untuk merokok jadi menurun dan menjadikannya waktu yang tempat untuk berhenti merokok.
Ngerokok Gak Bikin Keren, Dek
Sebelumnya saya pernah menulis hal ini di threads, saya senang karena sekarang banyak sekali orang-orang yang benar-benar 'anti' bahkan 'jijik' dengan perokok. Memang sudah layaknya perokok itu diintimidasi saja dalam bermasyarakat.
Efek baiknya adalah agar orang-orang engga coba-coba untuk mulai merokok. Terutama adik-adik kita para generasi muda yang memang sangat potensial menjadi calon perokok aktif. Saya percaya, banyak perokok sekarang yang sedang berjuang berhenti. Tapi banyak juga dari mereka yang gagal, karena ini bukanlah hal mudah.
Doakan yang Baik
Saya sendiri punya cara pandang yang berbeda, saya tidak se'jijik' itu dengan para perokok. Sejujurnya tiap kali ngeliat perokok saya suka berdoa semoga kami ini diberikan hidayah untuk segera berhenti merokok, dimulai dengan orang yang paling dekat, Bapak saya sendiri.
Kalau ditanya pun "Apa motivasimu nyuruh orang lain berhenti merokok?". Saya hampir ga bisa jawab, saya percaya bahwa berdebat dengan perokok itu biasanya sia-sia. Karena candu memang menghilangkan kesadaran.
Berdebat dengan orang yang hilang kesadaran itu ibarat, anu. Ah sudahlah. Maka mari kita doakan.
Sekarang Kami Bukan Perokok
Oh iya, saya ga pernah berdebat rokok dengan Bapak saya sendiri. Jadi contoh di atas bukan beliau. Bagi kami, rokok, kopi dan tuak bukanlah hal tabu, sudah umum disini. Saya hampir tidak pernah mengajak secara langsung beliau untuk berhenti merokok. Meski saya sudah berhenti, tapi ketika mengobrol rasanya kami masih sekubu soal rokok ini.
Tapi Alhamdulillah, meski dengan cara lain, beliau sempat sakit dan dirawat, saat ini kami berdua bukan lagi perokok. Tentu ini berkat doa istri beliau yang sholehah dan luar biasa. Sangat menyenangkan beberapa waktu lalu mendapati kabar mereka sedang bersantai di satu desa kecil, pinggir danau, sambil memancing, ditemani kopi, dan tanpa rokok.

0 comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan bijak