Sebenernya saya tim yang hepi hepi aja lari sambil hehujanan, tapi ini bertolak belakang dengan sifat yang ga bisa ngebiarin sepatu kotor, harus dicuci! Kalau musim hujan begini kan repot ya. Jadi saya terfikir untuk coba lari pakai sandal.
1. Percobaan Pertama, Pakai Sandal Gunung
Kebetulan saya punya 2 sandal gunung dan saya pilih yang sandal eiger selain udah berumur juga bahannya seperti lebih bersahabat kalau main di basah-basahan. Saya pakai kaos kaki lagi karena sandal ini dipakai jalan lama saja sudah ngasih blister.
Sudah 2x easy run dengan sandal ini di jarak 8km an dengan pace 6 besar. After run dari yang pertama memang lebih berasa, otot kaki berasa lebih stress. Tapi overall oke, nyaman.
2. Pakai Sandal Lari yang Proper
Maju mundur fikiran saya untuk beli sandal lari ini sebenernya. Alasan pertama; saya tidak terbiasa pakai sandal jepit, atau yang ada model penahannya di antara ibu jari. Kedua; sandal lari atau yang biasa disebut-sebut "almost" barefoot ini pun rada overrated menurut saya.
Overrated pertama dari segi harga, kok bisa ya harganya lumayan 'mahal'. Ya 300-700 ribu untuk sepasang sandal bagi saya mahal, lucu ya, hha. Overrated kedua adalah prinsip 'barefoot' nya. Barefoot dan mahal ini sudah 2 hal yang saling bertolak belakang.
3. Meyko NewTR
Ga banyak pilihan merk, lokal yang terkenal ada Pyopp dan Meyko, merk luar ada Luna tapi harganya jutaan karena sudah dilengkapi dengan vibram. Saya putuskan membeli merk Meyko lebih empuk dan lebih disarankan bagi pemula. Hingga tulisan ini dibuat, mileagenya masih 8.5km dipakai 1x berlari dan 3km an dipakai 2x berjalan.
Saya nekat aja pakai pertama kali tanpa pakai kaos kaki, emang ga punya juga kalos kaki bentuk jari. Haha. Tapi jaga-jaga saya bawa juga plester saat lari. Hasilnya? Cukup amazed, karena no blister, no drama. Karena lacing nya lebih proper, maka penggunaanya lebih enak, ringan berasa tidak pakai alas kaki.
Tantangannya adalah ground contact yang lebih terasa. Apalagi di permukaan yang tidak rata terutama di bebatuan, menjadi kelemahan sandal meyko ini karena bahannya empuk padahal saya sudah pakai seri TR (trail) nya.
Kesimpulan
Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk mengajak pembaca berlari menggunakan sandal 'almost' barefoot. Ini sebuah ikhtiar dari saya agar tetap bisa lari pagi walau jalanan sedang becek. Semangatnya; semoga kaki bisa lebih kuat.
Catatan sampingnya; jika sudah sering lari almost barefoot, maka kaki perlahan berubah ke bentuk naturalnya. Gimana naturalnya? Lebih besar, lebih lebar, efeknya? Sepatu yang sudah ada nanti banyak yang jadi kesempitan.
Sedikit banyak literatur 'barefoot' yang saya baca, cukup mengubah cara pandang saya terhadap bentuk kaki. Justru yang bentuknya 'agak' besar dan lebar itu yang saya sukai sekarang. Btw kaki saya pun tergolong 2E saat ini, tapi belum E banget, apasih namanya.
... dah. Ini saya tulis tanpa editing dan review, karena ngejar setoran artikel januari.
Seperti biasa yang sudah jadi rutinitas, setelah shubuh siap-siap lari pagi, walaupun sudah keliatan di luar gerimis, tapi masih optimis aja "ah ntar lagi reda". Menyedihkan belakangan ini harapan tidak sesuai kenyataan, hujannya ga berhenti, bahkan seharian. Ternyata saya ga sendirian, hha

0 comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan bijak