Jangan Salah Memaknai Arti Belajar
fathurhoho

Jangan Salah Memaknai Arti Belajar

Published by:
mengurus perpanjangan sim Sekitar 7 tahun lalu, saat saya menjadi seorang freshgraduate yang sibuk kesana kemari apply lamaran pekerjaan. Ada sebuah pengalaman yang sampai hari ini masih teringat jelas di kepala, engga terlupakan. Saya ceritakan disini dengan harapan bisa bermanfaat juga bagi pembaca, hehe. 

makna belajar

Pengalaman ini tepatnya ketika saya melamar pekerjaan sebagai Network Engineer di salah satu perusahaan cisco partner yang lokasinya di Jakarta Utara, jauhh. Tapi sama sekali tidak melunturkan semangat saya saat itu. 

 #1. Interview Perdana untuk posisi Network Engineer 

Sama seperti mayoritas freshgraduate pada umumnya, saya termasuk mereka yang ketika lulus, tidak pede dengan skill yang dimiliki. Namun sangat percaya diri dengan hanya menjual semangat dan kalimat “ingin mempelajari hal baru”. 

Jadi ini adalah pengalaman interview pertama saya untuk posisi Network Engineer, dan kamu bisa tebak hasilnya. 

Tiba di lokasi, saya langsung disambut oleh “user”, dan langsung interview teknikal saat itu juga. Dilakukan di ruang meeting yang saya liat sekeliling begitu banyak ip-phone cisco, ya perusahaan ini lebih banyak menghandle projek audio video communication alias “collaboration”. 

Diawali perkenalan, aktifitas kuliah, apa-apa saja yang dipelajari ketika kuliah, dan kemudian saya digambarkan sebuah topologi jaringan, saat itu interviewer meminta saya untuk melakukan konfigurasi routing, di atas kertas, dengan teknik routing apapun yang saya pahami. 

Begini kira-kira topologi yang beliau gambarkan. 

topologi interview network engineer

Saya terpelongo, mati langkah, tidak tau mau nulis apa, bahkan konfigurasi point-to-point nya pun tidak bisa saya selesaikan. 

Jadi, secara singkat, interview selesai sampai disitu, saya & interviewer pun keluar ruangan. Rasanya saya ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini, malu, serius :) 

Sedikit saya ceritakan seperti apa user yang menginterview saya. Terlihat jelas beliau adalah orang chinese, kalimatnya begitu tegas, dan tidak banyak basa basi. Bisa kamu bayangkan gimana gemetarnya saya saat itu. 

Maksud saya bukan rasis, namun saya sedikit tahu bagaimana umumnya pembawaan mereka. Sebagai info, di Pematangsiantar, mayoritas usaha (seperti bengkel maupun toko2 di pusat kota), dijalankan oleh mereka, yaitu koko2 atau cici2 (kami panggilnya). 

… dan kami sedikit banyak bisa membedakan bagaimana jika bekerja dengan mereka harus bisa gerak cepat dan tidak letoy, harus teliti, dan tidak banyak alasan. 

#2. Pesan Pertama: Jangan mau jadi IT Support 

Tadi saya bilang kalau beliau ga ada basa basinya, namun sembari jalan menuju pintu keluar kantor, saya diajukan pertanyaan yang kira-kira begini “kamu emang beneran mau jadi Network Engineer?”

Lalu saya jawab, ya Pak! Tapi saya harus banyak belajar lagi.

Seperti angin segar, saya pikir saya akan dikasih kesempatan untuk belajar di tempat ini. Namun beliau bilang kalau ada pesan yang mau disampaikan. 

Pertama: kalau memang benar-benar mau jadi Network Engineer, pelajari, coba ikuti les, coba nge-lab, masih ada kesempatan kalau mau belajar. Tapi jangan mau jadi IT Support, karena career tracknya kurang. 

Jujur, saya sendiri saat itu masih bingung yg IT Support yang gimana, System Administrator yang gimana, Network Engineer yang gimana, jadi saya iya kan saja pesan ini. 

… kemudian saya pun bekerja sebagai IT Support sebagai pengalaman kerja pertama saya, hehe. Akhirnya saya paham arti pesannya. 

 #3. Pesan Kedua: Jangan Salah Memaknai Arti Belajar 

Belum selesai, beliau menyampaikan pesan yang lebih penting, yaitu jangan salah memaknai arti sudah belajar. Karena dari semua topik yang ditanyakan tadi saya katakan sudah pernah dipelajari di kampus.

“Kamu bilang sudah belajar cisco di kampus, ikut cisco networking academy, sudah belajar routing, subnetting, switching, ya kan?” 

Iya, betul. Namun faktanya, saya salah besar disini. 

… yang dipelajari di kampus, berbeda dengan yang “kita” pelajari. Bukan belajar namanya jika hanya diterangkan oleh dosen saja sementara kita tidak mencoba belajar sendiri. 

Apalagi dalam hal teknik IT seperti ini. 

Seperti seorang anak yang diajari oleh Ayahnya mengendarai sepeda. 

Bayangkan kira-kira seperti ini: sang Ayah mencontohkan atau mempraktekkan cara bersepeda kepada si anak, lalu berkata "seperti ini cara menaiki sepeda" Si anak lantas mengiyakan, dan selesai. 

Seperti itu, apakah kita setuju bahwa si anak sudah belajar naik sepeda? Pasti jawabnya belum. Belum dikatakan belajar hingga si anak belajar menaiki sepeda dan bisa mengendarainya sendiri, ya kan? 

Seperti itulah makna belajar. 

Sekian.. 

Saat itu saya pulang dengan membawa pesan yang sangat berharga, yang saya simpan sampai sekarang, semoga bermanfaat juga bagi kamu para pembaca.

Tulisan terkait:

2 comments:

  1. jangan jadi IT Support, alasan nya kenapa ka...? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga penasaran. Apakah jawabannya akan ada pada judul selanjutnya. 🤔
      Hihihi

      Delete

Berkomentarlah dengan bijak