Karena Setiap Pengetahuan Itu Ada Harganya
fathurhoho

Karena Setiap Pengetahuan Itu Ada Harganya

Published by:
Ilmu Pengetahuan Itu Mahal Harganya

Judulnya terdengar “matre” kan ya…

Teringat pesan dari “guru” yang ngajarin saya komputer dulu, salah satunya adalah Bang Ammar, seorang guru di MTsN Pematangsiantar. Beliau yang ngajarin saya ngerakit dan memperbaiki komputer dasar, saya datang kerumahnya tiap malam, kadang juga beliau yang datang kerumah saya.
Tiap pertemuan, ada pesan yang pasti selalu disampaikan “nanti kalau fathur udah ngerti, jangan pernah nolak orang yang mau belajar ya, kan ini ilmu sederhana”.

“Iya bener, kalau dibagikan, pasti jadi ga sederhana.” batinku.

Ketika kuliah, saya punya kegiatan sampingan membantu teman-teman yang ingin belajar merawat laptop mereka. Sebut sajalah ini belajar menjadi “teknisi komputer”. Kegiatan sampingan ini murni saya lakukan secara gratis, tapi bukan cuma-cuma.
Saya sebut ini program “bayar hutang”, istilah yang datang dari guru komputer ketika SMA, pak Khairil Anzwar Uzir.

Singkatnya..
Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 16 teman yang ikut belajar, namun dengan jadwal praktek yang berbeda. Tidak semuanya rutin melakukan tatap muka dengan saya, paling setengahnya. Karena mereka rata-rata sudah melek internet, tinggal cari tutorial.

Teknik yang saya lakukan saat ‘mengajar’ cukup sederhana.
Cuma ada 3 proses:
  1. Pengenalan perangkat keras komputer.
  2. Pengenalan perangkat lunak komputer.
    Nah yang kedua itu bisa saja terbalik urutannya, tergantung mood yang mau belajar dan yang mau mengajar hehe. dan yang terakhir....
  3. terjun ke lapangan...
Point yang pertama dan kedua biasanya hanya diisi dengan sharing dan tanya jawab untuk mengetahui tingkat pemahaman temen yang mau belajar komputer, setelah itu saya menambahkan sedikit praktek troubleshooting.

Yang menarik, pada point terakhir mereka saya "haruskan" untuk membuka jasa service komputer/laptop, dengan modal kemampuan seadanya.
Tapi kudu dikasih jaminan, kalau mereka ga bisa, saya siap bantu se-maksimal mungkin. Hehe


Sulitnya menentukan Reward

Saya sadar, ilmu yang saya bagikan itu ga ada apa-apanya dibanding mereka-mereka yang sudah expert di bidang komputer.
Saya hanya membantu mereka dalam mengenali kinerja komputer, cara-cara sederhana dalam memperbaiki komputer, itu saja.

Setelah rasanya mereka cukup paham, mereka saya minta untuk mencari laptop/komputer yang rusak, biaya reparasinya silahkan ditentukan sendiri sesuai keinginan.
Hal ini bertujuan agar saya mendapat feedback berupa masalah-masalah baru (yang membuat saya bisa belajar lagi).

Beberapa hari kemudian, salah satu dari temen saya baru dapat pasien dengan masalah “laptopnya gak bisa hidup, stuck di layar hitam, kemudian restart terus menerus”.
Ini masalah sederhana, cukup ketikkan beberapa perintah saja, atau gunakan installer Windows-nya.

Alhasil, laptop tersebut pun hidup kembali dengan normal.
“Berapa biayanya wang”  kata saya.
“15 ribu thur, mayan lah buat uang rokok”  jawabnya.

Saya cuma bisa senyum.
Padahal do’i udah begadang semalam buat nyari solusinya, walaupun saya tau, saya ga langsung bantu.
Saya cuma kasih link buat panduan saja.

“Kalau si pasien bawa laptopnya ke warung jambu (pasar cantik di Kota Bogor), paling tidak biayanya dikenakan minimal 75 ribu, +ongkos kesana pulang pergi, +panas-panasan juga”.

Ini yang menjadi motivasi saya untuk menutup jasa reparasi komputer ketika kuliah, sudah cape-cape mikir, cuma dihargain sebungkus tembakau wahaha, terutama bagi teman-teman sekelas saya jurusan teknik komputer.
Bahkan teman saya sendiri, Pandu Agung Prayogi, bisa beli sepatu, de el el hanya dari iseng-iseng buka jasa install ulang laptop.

Jadi, saya putuskan untuk berbagi pengetahuan saja, materi yang diperoleh akan lebih gede, pahalanya berjalan terus.
Semoga ya… 
Disamping itu, mereka juga pasti ngerti apa yang saya rasakan selama ini, Haha
Seperti kata mas Ipul, “jasa itu tidak cukup kalau hanya diukur dari pekerjaan fisiknya saja. Karena disana pasti ada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu mahal harganya”.


Sekali Lagi: Ilmu Pengetahuan Itu Mahal Harganya



Sub judul yang ini saya kutip dari mas Vavai.
Pengembang PT.Excellent Infotama Kreasindo, perusahaan training dan konsultan IT.

Dari salah satu tulisan beliau yang membahas tentang “Lowongan Kerja Staff IT” yang memiliki requirement layaknya superman.
IT Network Infrastructure & Operation
(Bekasi dan Karawang)
Persyaratan:
  • Pria, usia 20-30 tahun.
  • Pendidikan D3 atau S1 teknik informatika atau ilmu komputer.
  • Minimal pengalaman 1 tahun.
  • Menguasai konsep jaringan switching dan routing.
  • Menguasai Mikrotik: Load balancing, VPN, filtering, dll.
  • Menguasai OS Windows server/client, Linux, Mail server, Web server, Virtual Machine, RAID, backup sistem, dll.
  • Mengetahui/menguasai Basic Programming: VB, PHP, Java, dan database.
  • Mampu melakukan instalasi jaringan kabel UTP, STP, dan FO, computer, printer, fax, dan software di lingkungan server/client.
  • Memiliki SIM A
Menurut kamu, berapa gaji yang ditawarkan untuk posisi tersebut?
Mengingat persyaratannya luar biasa, layak dikatakan superman IT.
Menurut saya sendiri, gajinya di rentang 8 sampai 15 juta gitulah, “matre kan”…

Ternyata, ga segitu loh, coba buktikan aja di situs-situs lowongan kerja kayak di Jobstreet, sekitar 5 jutaan paling gede. Serius ini bukan propaganda, ini kejujuran.

Lowongan mirip-mirip kayak diatas juga masih banyak beredar sampai sekarang, dan biasanya itu dipublish oleh perusahaan yang bukan bergerak di bidang IT.

Dilamar juga tidak ada salahnya, tapi ingat “Ilmu Pengetahuan Itu Mahal Harganya”.
Nyatanya, di dunia kerja, setiap orang akan sibuk dengan masing-masing speliasisasinya, ga ada tuh orang yang sibuk sama semua persyaratan diatas, kecuali dia menduduki jabatan sebagai chief IT dan jajarannya.
Itu juga tidak terlalu repot dengan urusan teknik pengerjaannya banget.

Untuk menyiasatinya, saya membuka freelance diluar pekerjaan saya saat ini.
Disamping bisa menjadi cara untuk menghargai ilmu sendiri, bisa menjadi langkah untuk jadi superman kaya diatas. Bisa jadi…

0 comments:

Post a Comment

Back to top