Pasar Sering Kebakaran, Terbakar atau Dibakar?
fathurhoho

Pasar Sering Kebakaran, Terbakar atau Dibakar?

Published by:
Kenapa Pasar Sering Kebakaran

Gambar diatas diambil oleh teman saya, saat terjadi kebakaran di Kemanggisan Pulo, Jakarta Barat, Senin 09 Mei 2016 lalu.
Jadi, malam itu sekitar pukul 21.00 WIB salah satu penghuni kamar teriak-teriak “kebakaran”, sontak saya panik kirain kostan kebakaran. Ternyata bukan kost an saya. Melihat keluar, tampak sangat jelas api sedang melahap pemukiman penduduk di kemanggisan pulo, hanya beberapa kilometer jaraknya, namun api terlihat sangat tinggi dan semakin meluas.

Hal itu disebabkan karena wilayah tersebut memang dijadikan tempat penampungan barang-barang bekas yang kebanyakan dari plastik dan barang-barang yang mudah terbakar. Sekitar 3 jam lebih, api baru mulai padam, team pemadam cukup kesulitan karena sumber air yang jauh, dan wilayah kebakaran yang sulit dijangkau.


Jadi, cerita diatas bukan tentang kebakaran pasar ya, tapi pemukiman warga.
Baiklah sebenarnya dari kasus-kasus kebakaran yang sering terjadi, ada pertanyaan yang hinggap di benak saya.
  1. Kenapa pasar sering kebakaran? (Jika dibandingkan dengan perumahan atau apartemen/gedung).
  2. Pasar sering kebakaran, malah terbilang rutin seperti terjadwal? Kenapa? Kenapa?
Wajar saja, paginya berita kebakaran tersebut cukup menjadi bahan perbincangan dengan teman-teman. Ternyata pertanyaan diatas bukan hanya dibenak saya, tetapi juga teman-teman, barangkali kalian yang sedang membaca tulisan ini juga bertanya demikian.

Baiklah, mari kita mulai untuk menebak-nebak jawabannya.
Karena ini hanya tebak-tebakan, mohon jangan diambil pusing, ambil hikmahnya saja (kalau ada).

Kenapa pasar sering kebakaran?

1. Human Error, Korsleting Listrik, dan Sebagainya

Jika kita mendengar berita-berita kebakaran, maka tidak jarang kita mendengar kebakaran tersebut disebabkan oleh korsleting listrik, kompor meleduk, atau human error, kelalaian manusia.

Korsleting Listrik

Kebakaran yang disebabkan oleh korsleting listrik disebabkan oleh terhubungnya konduktor positif dengan konduktor negatif, maka terjadilah hubungan pendek. Hubungan pendek ini menghasilkan energi panas yang sangat cepat dalam waktu yang sangat singkat, sehingga menimbulkan ledukan, dan bisa membakar apa saja, dalam waktu yang sangat singkat.

Satu Jalur Rame-Rame

Disebabkan oleh banyaknya beban yang ditanggung suatu jalur listrik. Makanya kita tidak disarankan untuk menghubungkan banyak perangkat elektronik ke sebuah stop kontak dengan menggunakan banyak terminal. Hal ini menyebabkan media penghantar listrik menjadi lebih cepat panas.

Selain itu, penggunaan kabel serabut juga tidak disarankan. Lebih baik menggunakan kabel tunggal karena daya tahannya akan panas lebih kuat. Walaupun lebih kuat, menurut standar, kabel-kabel tersebut harus kembali diremajakan dalam 15 tahun penggunaan.

Kelalaian Manusia

Penyebab yang ketiga, disebabkan oleh kelalaian manusia seperti lupa mematikan kompor, membuang puntung rokok (yang masih menyala) sembarangan, dan lain-lain.
Dulu, kost saya pernah penuh dengan asap, ternyata ada orang yang membuang puntung rokok di tempat sampah yang notabene isinya sebagian besar kertas-kertas, bungkus mie instan, dan…. tisu.

Trend kompor meleduk juga perlu diperhitungkan, kasus ini paling sering terjadi karena penggunaan tabung gas 3 Kg, walaupun semua tabung tersebut sudah melewati quality control dari pihak produsen, banyak diantara kita yang tidak memahami pemasangan tabung terrsebut dengan benar.

Jadi, jika ditinjau secara umum, point diatas bisa menjadi penyebab utama maraknya kasus kebakaran di pasar. Kenapa pasar? Kenapa bukan perumahan, gedung, atau apartemen?
Mari kita review kembali:
  1. Di pasar, jika penjual ingin menambah jalur listrik untuk kebutuhan lampu, pemanas air, dan sebagainya, mereka melakukan penyambungan kabel secara mandiri. Penyambungan kabel yang baik adalah dengan cara menggulung kedua kabel seperti ekor babi, kemudian diisolasi dengan baik. Jika tidak, hal ini bisa menyebabkan korsleting listrik.
    Silahkan kamu perhatikan beberapa kios pasar yang memiliki sambungan kabel, sudahkah mereka melakukannya dengan benar?
  2. Beban yang tidak sesuai, ataupun penggunaan peralatan listrik yang tidak sesuai SNI. Seperti kabel 1,5 mm maksimal 4 ampere per 900 W, 4 mm maksimal 16 ampere per 3500 W dan seterusnya.
    Apakah penggunaan yang dilakukan sudah sesuai standar?
  3. Penumpukan beban. Banyak dari kita yang lebih memilih menumpuk perangkat elektronik ke sebuah stop kontak. Apalagi jika kabel yang digunakan adalah kabel serabut, bukan kabel tunggal.
    Bagaimana dengan yang ini?

2. Terbakar, atau Dibakar?

Hal yang belum terpecahkan sampai sekarang adalah, kasus-kasus pasar kebakaran itu sebenarnya memang karena kebakaran, atau...

memang sengaja dibakar?


Kasus ini meliputi semua pasar yang ada di negeri kita tercinta, baik pasar di Ibukota maupun pasar tradisional di kota-kota lainnya. Seperti halnya di Pematangsiantar, sejauh informasi yang saya ketahui kebakaran sudah terjadi selama 3x, di pasar yang sama, yakni Pasar Parluasan (disebut pajak parluasan) juga Pasar Horas.

Karena seringnya terjadi kebakaran, sering juga terjadi isu-isu yang tidak benar. Seperti bulan Januari lalu, ada isu yang mengatakan bahwa “Pasar Dwikora (pajak perluasan) kebakaran.” Alhasil masyarakat geger terutama para pedagang . Orang berbondong-bondong kesana. Tidak tau pasti apa tujuan pihak-pihak yang menyebarkan isu ini.

Aneh kan?
Sampai rutin menjadi isu. Kebakaran pasar tentu menjadi suatu momok yang menakutkan bagi pedagang-pedagang di pasar.

Ada perasaan lucu, kadang juga saya merasa sedih. Memikirkan bagaimana nasib pedagang jika barang-barang mereka ludas dilahap api. Terlebih lagi, saya merasa terusik sendiri, karena memang keluarga saya banyak yang berdagang di pasar, lebih tepatnya pasar parluasan.


Mari kita simak penjelasan berikut:

"Atas pertimbangan peremajaan bangunan, efisiensi tempat, dan penanggulangan sampah selokan, sampai kemacetan area parkiran. Pengelola harus melakukan renovasi pasar.
Sementaraa…..
Para pedagang seringkali menolak kegiatan renovasi tersebut. Alasannya manusiawi, walaupun nanti kios mereka lebih rapi dan bersih, mereka takut kehilangan pelanggan, apalagi jika mereka mendapatkan kios yang jauh dan susah dijangkau pembeli. Katanya, tempat menentukan prestasi, begitu juga dengan kios di pasar, dimana pembeli sering lalu-lalang, disitu pula kesempatan barang lebih mudah terjual."


Logis juga, kita tau bahwa negosiasi dalam hal ini sulitnya bukan main. Akibatnya pengelola atau pihak-pihak yang bersangkutan melakukan cara pintas dengan membakar pasar secara sengaja. Wallahua'lam.

Tentunya kalaupun hal ini terjadi, masyarakat taunya 'pasar tersebut terbakar', berita akan ditutupi sedemikian rupa untuk menghindari konflik, mungkin juga dengan tujuan asuransi bangunan.
Sekali lagi, ini hanya asumsi.

Berkaca dari fenomena diatas, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan atau bergantung kepada pemerintah, adalah tanggung jawab kita sendiri mewujudkan pola hidup yang lebih baik.

(Jika) 'sengaja dibakar', walaupun pintas, namun cara ini tidak menyelesaikan masalah secara tuntas, hanya sementara, beberapa tahun kedepan juga pasti akan 'dibakar' lagi.
Begitu seterusnya sampai fenomena ini akan dikenal sebagai perilaku unik negeri Indonesia.

Untuk menyikapi fenomena ini, sebenarnya ada cara yang lebih manusiawi, dan hanya akan berhasil jika dilakukan dengan cara yang manusiawi juga:

Masyarakat pasar terutama tradisional memang dikenal dengan pasar yang kumuh dengan perilaku yang asal-asalan, sehingga fasilitas apapun yang tersedia, tidak hanya peralatan listrik, umurnya tidak akan panjang.

Sedang pengelola menginginkan agar bangunannya tetap bertahan dan laku dalam jangka panjang. Adalah tanggung jawab kita sepenuhnya untuk memanfaatkan fasilitas sebaik-baiknya, terutama energi listrik. Sebab itu adalah sumber daya kita bersama, tanggung jawab bersama.

Namun di pasar tradisional seringkali kita temui penggunaan sumber daya listrik yang jamak, instalasi listrik sembarangan, semuanya mereka lakukan secara sembrono.
Sehingga, mustinya pemerintah lebih berfikir untuk memberikan orientasi, dan pengawasan rutin. Jangan hanya tanggap dalam hal-hal penarikan retribusi, namun jarang melakukan pengawasan, serta melihat persoalan kultur perilaku masyarakat pengguna pasar secara detail dan mendalam.

Jika hal ini dilakukan secara manusiawi dan rutin, dalam waktu dekat tidak ada lagi 'operasi bakar rutin' yang terjadi seperti sekarang-sekarang. Masyarakat hanya butuh dukungan, akan terbentuk kultur perilaku masyarakat terutama pengguna pasar yang cerdas, tak perlu lagi melakukan hal-hal paksa hanya demi renovasi bangunan, peremajaan, dan lain-lain. Masyarakat sebagian besar terutama pengguna pasar akan paham dalam memanfaatkan fasilitas sebaik-baiknya, menjaga sumberdaya yang ada, dengan naungan pemerintah, yang manusiawi.

Baca juga: Tak Hijau Lagi Kampungku

0 comments:

Post a Comment

Back to top